BerandaArtikelKejawen
Rila, Narima, Sabar: Tiga Sikap Hidup Ajaran Kejawen
Kejawen·5 min baca

Rila, Narima, Sabar: Tiga Sikap Hidup Ajaran Kejawen

9 Juli 2026


Dalam ajaran kejawen, ada tiga sikap hidup yang sering disebut sebagai fondasi utama untuk menjalani hidup dengan tenang, yaitu rila, narima, dan sabar. Ketiganya terdengar sederhana, tapi kalau benar-benar dipahami dan diterapkan, dampaknya bisa sangat besar terhadap cara seseorang menghadapi hidup.

Memahami Makna Rila

Rila berarti ikhlas, yaitu sikap merelakan sesuatu tanpa menyimpan rasa kecewa atau dendam berlebihan. Dalam konteks kejawen, rila bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk menerima hasil akhir dari sebuah usaha, baik itu sesuai harapan maupun tidak, tanpa terus menerus menyalahkan diri sendiri atau keadaan.

Memahami Makna Narima

Narima berarti menerima, khususnya menerima kenyataan hidup apa adanya. Sikap ini mengajarkan seseorang untuk tidak selalu membandingkan diri dengan orang lain, dan lebih fokus mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Narima bukan berarti tidak boleh punya keinginan atau cita-cita, tetapi lebih kepada sikap tidak larut dalam kekecewaan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Memahami Makna Sabar

Sabar berarti kemampuan mengendalikan diri, terutama saat menghadapi situasi sulit atau emosi negatif. Dalam kejawen, sabar dianggap sebagai kunci penting untuk menjaga keseimbangan hidup, karena orang yang sabar cenderung lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terpancing pada tindakan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana Ketiga Nilai Ini Saling Berkaitan

Rila, narima, dan sabar sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Rila membantu seseorang melepaskan hal yang sudah tidak bisa diubah, narima membantu menerima kenyataan dengan lapang dada, sedangkan sabar membantu menjaga sikap tetap tenang selama proses menghadapi tantangan hidup. Ketiganya menciptakan fondasi mental yang kuat untuk menjalani hidup tanpa terlalu terbebani oleh ekspektasi berlebihan.

Relevansi di Kehidupan Modern

Di tengah tekanan hidup modern yang serba cepat dan kompetitif, tiga nilai ini justru semakin relevan sebagai pengingat untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Menerapkan rila, narima, dan sabar bisa membantu seseorang menjaga kesehatan mental, tanpa harus berhenti berusaha atau kehilangan semangat untuk berkembang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa arti rila dalam ajaran kejawen?

Rila berarti ikhlas, yaitu sikap merelakan sesuatu tanpa menyimpan kekecewaan atau dendam berlebihan terhadap hasil yang didapat.

Apa arti narima dalam ajaran kejawen?

Narima berarti menerima kenyataan hidup apa adanya, dengan tetap fokus mensyukuri apa yang sudah dimiliki tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain.

Apa arti sabar dalam konteks kejawen?

Sabar berarti kemampuan mengendalikan diri, terutama saat menghadapi situasi sulit, agar tetap bisa mengambil keputusan dengan bijak.

Apakah rila berarti pasrah tanpa usaha?

Tidak. Rila lebih kepada menerima hasil akhir dari sebuah usaha, bukan berarti berhenti berusaha sejak awal.

Apakah narima berarti tidak boleh punya cita-cita?

Tidak. Narima tetap memperbolehkan seseorang punya keinginan dan cita-cita, hanya saja tidak larut dalam kekecewaan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Bagaimana cara melatih sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari?

Bisa dimulai dengan membiasakan diri berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap situasi sulit, serta melatih kesadaran untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan saat emosi sedang tinggi.

Apakah ketiga nilai ini hanya berlaku untuk penganut kejawen?

Tidak. Meski berasal dari ajaran kejawen, nilai rila, narima, dan sabar bersifat universal dan bisa diterapkan oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang kepercayaan.

Apa hubungan rila, narima, dan sabar dengan kesehatan mental?

Ketiga nilai ini bisa membantu seseorang mengelola stres dan kekecewaan dengan lebih baik, sehingga berkontribusi positif terhadap kesehatan mental secara keseluruhan.

Apakah rila, narima, dan sabar bertentangan dengan semangat berjuang?

Tidak. Ketiganya justru mendukung semangat berjuang, karena membantu seseorang tetap tenang dan fokus meski menghadapi kegagalan atau tantangan berat.

Bagaimana cara mengajarkan nilai ini kepada generasi muda?

Bisa dimulai dengan memberi contoh nyata dalam keseharian, serta menjelaskan makna ketiga nilai ini melalui cerita atau pengalaman hidup yang relevan dengan situasi anak muda saat ini.

Apakah ada istilah lain dalam kejawen yang berkaitan dengan ketiga nilai ini?

Ada, misalnya eling lan waspada, yang juga menekankan kesadaran diri dan pengendalian emosi, sejalan dengan semangat rila, narima, dan sabar.

Apakah menerapkan narima berarti tidak boleh mengeluh sama sekali?

Tidak. Narima lebih menekankan pada sikap menerima kenyataan tanpa larut dalam kekecewaan berkepanjangan, bukan melarang seseorang untuk mengekspresikan perasaannya.

Apakah rila, narima, dan sabar bisa diterapkan dalam dunia kerja?

Bisa. Ketiga nilai ini bisa membantu seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, kegagalan proyek, atau konflik dengan rekan kerja secara lebih dewasa dan tenang.

Apakah ada risiko jika seseorang terlalu menerapkan sikap sabar?

Kesabaran yang berlebihan tanpa keseimbangan bisa membuat seseorang enggan bersuara atau mengambil tindakan saat memang diperlukan, sehingga tetap perlu diterapkan secara proporsional.

Bagaimana cara memulai menerapkan rila, narima, dan sabar dalam hidup sehari-hari?

Bisa dimulai dari hal kecil, seperti melatih rasa syukur setiap hari, menerima kegagalan sebagai bagian dari proses, dan membiasakan diri berpikir tenang sebelum bertindak.

Tag

rila narima sabarajaran kejawensikap hidup jawafilosofi jawa