
Tradisi Tedhak Siten: Makna di Balik Upacara Turun Tanah
16 Agustus 2026
Bagi masyarakat Jawa, setiap tahap tumbuh kembang anak selalu diiringi dengan doa dan ritual yang melibatkan keluarga besar. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah tedhak siten, sebuah upacara yang digelar ketika seorang bayi mulai menginjakkan kakinya ke tanah untuk pertama kali. Bukan sekadar seremoni, tedhak siten menyimpan filosofi mendalam tentang perjalanan hidup manusia sejak usia dini.
Artikel ini akan mengulas asal-usul dan makna tradisi tedhak siten, tahapan-tahapan upacara secara berurutan, simbolisme di balik setiap ritualnya, hingga relevansinya di tengah kehidupan modern. Dengan memahami tradisi ini, pembaca dapat melihat bagaimana masyarakat Jawa memaknai pertumbuhan anak sebagai peristiwa yang layak dirayakan bersama-sama.
Asal-Usul dan Makna Tradisi Tedhak Siten
Istilah tedhak siten berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu "tedhak" yang berarti turun atau melangkah, dan "siti" atau "siten" yang berarti tanah. Secara harfiah, tedhak siten dapat diartikan sebagai "turun ke tanah", merujuk pada momen ketika kaki bayi untuk pertama kalinya diperkenankan menyentuh permukaan bumi secara simbolis. Tradisi ini juga dikenal dengan nama tedhak siti atau upacara turun tanah, dan biasanya digelar ketika bayi berusia sekitar tujuh hingga delapan bulan, saat anak mulai menunjukkan kemampuan berdiri atau melangkah.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, tanah bukan sekadar pijakan fisik, melainkan simbol kehidupan nyata dengan segala tantangannya. Upacara ini menjadi semacam pengantar bagi sang anak untuk mulai "berkenalan" dengan dunia di luar pangkuan orang tua. Tedhak siten juga merupakan wujud syukur keluarga atas tumbuh kembang buah hati yang sehat, sekaligus doa bersama agar kelak sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berbudi baik dalam menjalani kehidupannya.
Berjalan di Atas Jadah Tujuh Warna
Rangkaian pertama dalam upacara tedhak siten adalah berjalan di atas jadah atau ketan yang telah diwarnai dalam tujuh warna berbeda. Jadah-jadah ini disusun berjajar memanjang, kemudian bayi dituntun oleh orang tua atau sesepuh keluarga untuk melangkah satu per satu di atasnya. Warna-warni jadah ini bukan tanpa arti; masing-masing warna dipercaya melambangkan beragam warna kehidupan yang kelak akan dihadapi sang anak, mulai dari suka dan duka hingga tantangan yang berbeda-beda di setiap fase hidupnya.
Melalui simbol ini, orang tua berharap anak mereka kelak mampu melewati berbagai rintangan hidup dengan tabah dan bijaksana, sebagaimana ia melangkah dengan mantap di atas jadah yang berwarna-warni tersebut. Ritual ini juga mengajarkan makna bahwa hidup tidak selalu monoton, melainkan penuh dengan warna yang harus dihadapi satu demi satu, layaknya langkah kaki yang menapaki jadah tersebut secara berurutan.
Menaiki Tangga Tebu
Setelah melewati jadah tujuh warna, bayi kemudian dibantu untuk menaiki sebuah tangga kecil yang terbuat dari batang tebu, yang biasa disebut tangga tebu atau tangga aren. Tangga ini biasanya disandarkan pada sebuah tiang atau digendong oleh orang dewasa sembari bayi dituntun untuk "memanjatnya" selangkah demi selangkah. Pemilihan tebu sebagai bahan tangga bukanlah kebetulan, sebab tebu dalam bahasa Jawa dikaitkan dengan kata "antebing kalbu" yang bermakna kemantapan hati, sekaligus melambangkan rasa manis dalam menjalani kehidupan.
Simbolisme menaiki tangga tebu ini menggambarkan harapan agar sang anak kelak dapat melangkah maju dalam hidup dengan langkah yang mantap dan penuh pertimbangan, tidak tergesa-gesa. Selain itu, rasa manis dari tebu juga menjadi doa agar kehidupan yang dijalani anak tersebut senantiasa dipenuhi keberuntungan, kebahagiaan, dan hal-hal manis lainnya. Tahapan ini menjadi salah satu momen yang paling dinanti dalam upacara, karena menggambarkan proses "naik kelas" dalam kehidupan seorang anak menuju usia yang lebih matang.
Kurungan Ayam dan Benda-Benda Simbolis
Tahap berikutnya yang tak kalah menarik adalah memasukkan bayi ke dalam kurungan ayam, yaitu sangkar bambu yang biasa digunakan untuk mengurung unggas, namun telah dihias sedemikian rupa agar tampak lebih meriah. Di dalam kurungan tersebut, diletakkan berbagai benda yang memiliki makna simbolis, seperti uang, buku, padi, perhiasan kecil, hingga alat-alat atau perkakas tertentu. Bayi kemudian dibiarkan bergerak bebas di dalam kurungan tersebut, dan keluarga yang hadir akan memperhatikan benda mana yang pertama kali diraih oleh sang anak.
Menurut kepercayaan Jawa, benda yang pertama kali diambil bayi dipercaya menjadi semacam pertanda mengenai minat, bakat, atau bahkan profesi yang kelak akan digelutinya di masa depan. Meski begitu, kepercayaan ini lebih dipahami sebagai tradisi keluarga yang menghibur dan mempererat kebersamaan, bukan sebagai ramalan yang harus ditelan mentah-mentah. Momen ini kerap menjadi bagian paling dinanti dalam upacara, sebab seluruh anggota keluarga biasanya turut menyaksikan dengan penuh antusias sambil menebak-nebak benda apa yang akan diraih oleh sang bayi.
Sebar Udik-Udik dan Selamatan Penutup
Setelah rangkaian di kurungan ayam selesai, upacara dilanjutkan dengan menyebarkan udik-udik, yaitu campuran uang receh dan beras kuning, yang terkadang juga disertai kelopak bunga. Udik-udik ini disebarkan kepada anak-anak dan tetangga yang hadir, sehingga mereka akan berebut mengumpulkannya dengan riang gembira. Tradisi menyebar udik-udik ini melambangkan sikap kedermawanan keluarga serta harapan agar rezeki dan kebahagiaan yang diterima sang anak juga dapat dibagikan dan dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Upacara tedhak siten kemudian ditutup dengan acara selamatan, yaitu makan bersama yang diikuti oleh keluarga besar, tetangga, dan kerabat yang turut hadir. Dalam selamatan ini, dipanjatkan pula doa bersama untuk keselamatan, kesehatan, serta budi pekerti baik sang anak, agar kelak ia dapat menjalani kehidupan dengan lancar dan penuh keberkahan. Kebersamaan dalam menutup upacara ini menjadi cerminan nilai gotong royong yang begitu kental dalam budaya Jawa, di mana kebahagiaan seorang anak dianggap sebagai kebahagiaan bersama.
Makna Kebersamaan Tedhak Siten di Era Modern
Meski zaman terus berubah, tradisi tedhak siten masih banyak dilestarikan oleh keluarga Jawa, baik yang tinggal di kampung halaman maupun yang telah merantau ke kota besar. Di tengah kehidupan modern yang serba individual, upacara ini tetap menjadi momen berharga untuk mengumpulkan keluarga besar dan tetangga, sekaligus mengenalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa kepada generasi muda. Banyak keluarga masa kini yang menggelar tedhak siten dengan sentuhan modern, misalnya dengan dokumentasi foto dan video profesional, tanpa menghilangkan esensi ritual aslinya.
Lebih dari sekadar seremoni, tedhak siten mengajarkan bahwa tumbuh kembang seorang anak bukanlah urusan pribadi keluarga inti semata, melainkan sesuatu yang layak dirayakan dan didoakan bersama oleh komunitas yang lebih luas. Nilai kebersamaan inilah yang membuat tradisi tedhak siten tetap relevan hingga saat ini, sebagai pengingat bahwa setiap langkah kecil seorang anak sesungguhnya adalah langkah besar bagi seluruh keluarga dan lingkungannya.
FAQ
Apa itu tradisi tedhak siten?
Tedhak siten adalah upacara adat Jawa yang digelar untuk menandai momen pertama kali kaki bayi diperkenankan menyentuh tanah, biasanya saat bayi berusia sekitar tujuh hingga delapan bulan.
Kapan waktu yang tepat menggelar tedhak siten?
Upacara ini umumnya digelar ketika bayi berusia sekitar tujuh hingga delapan bulan, saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda ingin berdiri atau melangkah.
Apa arti kata tedhak siten?
Kata "tedhak" berarti turun atau melangkah, sedangkan "siti" atau "siten" berarti tanah, sehingga tedhak siten secara harfiah berarti turun ke tanah.
Apa nama lain dari tedhak siten?
Tradisi ini juga dikenal dengan sebutan tedhak siti atau upacara turun tanah di berbagai daerah di Jawa.
Apa makna jadah tujuh warna dalam upacara ini?
Jadah tujuh warna melambangkan beragam warna kehidupan yang akan dihadapi anak, mulai dari suka, duka, hingga berbagai tantangan di sepanjang perjalanan hidupnya.
Mengapa menggunakan tangga dari batang tebu?
Tebu dipilih karena dikaitkan dengan makna kemantapan hati dan rasa manis, sehingga melambangkan harapan agar anak melangkah maju dengan mantap dan hidup penuh kebahagiaan.
Apa fungsi kurungan ayam dalam tedhak siten?
Kurungan ayam digunakan sebagai tempat bayi diletakkan bersama berbagai benda simbolis, untuk melihat benda mana yang pertama kali diraihnya sebagai bagian dari tradisi yang menghibur keluarga.
Benarkah benda yang diambil bayi menentukan masa depannya?
Menurut kepercayaan Jawa, hal ini dianggap sebagai pertanda ringan tentang minat atau bakat anak, namun lebih dimaknai sebagai tradisi keluarga yang menyenangkan daripada ramalan yang pasti.
Apa itu udik-udik dalam upacara tedhak siten?
Udik-udik adalah campuran uang receh dan beras kuning yang disebarkan kepada anak-anak dan tetangga sebagai simbol kedermawanan dan berbagi kebahagiaan.
Apakah tedhak siten masih dilakukan di zaman modern?
Ya, banyak keluarga Jawa masa kini yang tetap melestarikan tradisi ini, meski terkadang dengan sentuhan modern seperti dokumentasi profesional dan dekorasi yang lebih kekinian.
Apakah tedhak siten hanya berlaku untuk anak laki-laki?
Tidak, tradisi ini berlaku baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan, karena intinya adalah menandai tahap tumbuh kembang anak secara umum.
Apa pesan utama dari tradisi tedhak siten?
Pesan utamanya adalah bahwa pertumbuhan seorang anak merupakan peristiwa yang layak dirayakan dan didoakan bersama oleh keluarga besar dan lingkungan sekitarnya.
Tedhak siten adalah cerminan bagaimana masyarakat Jawa memandang kehidupan sebagai perjalanan yang penuh warna, tantangan, dan kebersamaan sejak usia dini. Melalui rangkaian ritual yang sarat makna ini, keluarga tidak hanya merayakan tumbuh kembang sang anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Baca juga Tradisi Sedekah Bumi: Ucapan Syukur ala Masyarakat Jawa, atau Kejawen Itu Apa? Filosofi Hidup, Bukan Sekadar Ramalan untuk memperdalam pemahaman tentang filosofi hidup masyarakat Jawa.


